Naik Andong Kehujanan

Andong terguncang-guncang di bawah hujan.
Hujan mengguyur malam, melecut kudaku yang kecapaian.
(Andong: keranda indah yang membawa kita tamasya
keliling kota. Kling klong kling klong.)

Andong: kudanya kurus kering tinggal tulang-belulang,
terseok-seok mendaki jalanan licin berkelok-kelok.
“Hoya! Hoya!” teriak kusir
sambil menyabet-nyabetkan pecutnya.

Kusirnya gundul, gendut dan gendeng.
Enak-enak merokok, minum bir, makan apem.
“Hoya! Hoya!” hentaknya garang
sambil dipecutnya kudaku yang kelaparan.

Andong tertatih-tatih di bawah hujan,
membawa sepasang pengantin ke sebuah kondangan.
Kudanya kurus kering tinggal tulang-belulang,
terengah-engah mendaki jalanan gelap dan basah.
“Hoya! Hoya!” teriak penumpang
membentak kusir yang ketiduran.

Penumpangnya pakai topeng, banyak tingkah, pecicilan.
Yang satu mabuk, yang lain kesurupan.
“Nikmat juga euy naik andong kehujanan,”
kata penumpang edan sambil enak-enak minum bir,
makan lemper, dan dangdutan.

Andong berhenti di kuburan. Pesta kawinan
sudah disiapkan. Dan sudah ada pertunjukan jaran kepang.
“Selamat datang Pengantin,” sambut seorang arwah
penjaga gerbang. Kudaku ketakutan. Melesat minggat
sendirian. Kusir dan penumpangnya ditinggalkan.
(Andong: keranda kosong yang melaju kencang
mencari penumpang. Kling klong kling klong.)

Andong meluncur di bawah hujan. Hujan mengguyur
malam, melecut kudaku yang kesakitan. “Hoya! Hoya!”
gertak kudaku kesetanan, ngebut menembus malam.

(1999)