Surat Cukur

Aku mengarang surat ini di hadapan cermin
yang sedang memamerkan rambut baruku.

Subuh tadi aku dicukur. Aku didatangani
tukang cukur gondrong dan gila. Ia menghunus
pisau cukurnya sambil mencengkeram tengkukku:
“Aku ingin membuat garis merah di lehermu.”

Di masa kecilku tukang cukur itu pernah
menggunduli kepalaku di bawah pohon beringin,
lalu mengantarku pulang dengan sepedanya.
Setelah itu aku tak pernah lagi melihatnya.

Sebagian rambutku sudah menjadi rambut salju.
Jangan sedih. Aku belum lupa cara untuk berbahagia.
Dompet boleh padam, rezeki tetap menyala.

Di dalam cermin ada matahari yang pemalu.
Matahariku kecil saja dan tidak sombong.
Aku tak bisa melihat matahari kecilku
sebab ia sembunyi di belakang kepalaku.

Aku tak akan lupa garis merah di telapak tanganmu.
Semoga hidupmu lebih manis dari jidat manismu.
Ini aku kirimkan potongan rambutmu
yang dulu kamu tanam di sela-sela rambutku.

(2013)

Surat Sarung

Tuhan mau numpang tidur
dalam sarungmu, menikmati
betapa lenturnya jingkrungmu.

Menjingkrunglah.
Aku bantu menjingkrung dari jauh.

Tuhan mau numpang demam
dalam jingkrungmu, merasakan
betapa gigihnya gigilmu.

Menggigillah.
Aku bantu menggigil dari jauh.

(2013)

Surat Batu

Maaf, baru sekarang aku membalas surat
yang kamu kirim tujuh tahun yang lalu.

Waktu itu kamu memintaku merawat
sebuah batu besar di halaman rumahmu
sebelum nanti kamu pahat menjadi patung.
Batu itu kamu ambil dari sungai di tengah hutan.

Aku suka duduk membaca dan melamun
di atas batumu dan bisa merasakan denyutnya.
Kadang mimpiku tertinggal di atas batumu
dan mungkin terserap ke dalam rahimnya.

Hujan sangat mencintai batumu dan cinta hujan
lebih besar dari cintamu. Aku senang
melihat batumu megap-megap dicumbu hujanku.

Akhirnya batumu hamil. Dari rahim batumu
lahir air mancur kecil yang menggemaskan.
Air mancur itu sekarang sudah besar,
sudah bisa berbincang-bincang dengan hujan.

Maaf, jangan ganggu air mancurku.
Bahkan batumu mungkin sudah tidak mengenalmu.

(2013)

Surat Kopi

Lima menit menjelang minum kopi,
aku ingat pesanmu: “Kurang atau lebih,
setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”

Mungkin karena itu empat cangkir kopi sehari
bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri.

Kau punya bermacam-macam kopi
dan kau pernah bertanya: “Kau mau pilih
kopi yang mana?” Aku jawab: “Aku pilih kopimu.”

Di mataku telah lahir mata kopi.
Di waktu kecil aku pernah diberi Ibu cium rasa kopi.
Apakah puting susu juga mengandung kopi?

Kopi: nama yang tertera pada sebuah nama. Namaku.

Burung menumpahkan kicaunya ke dalam kopi.
Matahari mencurahkan matanya ke hitam kopi.
Dan kopi meruapkan harum darah dari lambungmu.

Tiga teguk yang akan datang aku bakal
mencecap hangat darahmu di bibir cangkir kopiku.

(2013)

Surat Kau

Kau tak ada di kakiku
ketika aku membutuhkan langkahmu
untuk merambah rantauku.

Kau tak ada di tanganku
ketika aku membutuhkan jarimu
untuk menggubah gundahku.

Kau tak ada di sarungku
ketika aku membutuhkan jingkrungmu
untuk meringkus dinginku.

Kau tak ada di bibirku
ketika aku membutuhkan aminmu
untuk meringkas inginku.

Kau tak ada di mataku
ketika aku membutuhkan pejammu
untuk merengkuh tidurku.

Mungkin kau sudah menjadi aku
sehingga tak perlu lagi aku menanyakanmu.

(2013)

Surat Pulang

Tenanglah. Aku tak pernah mengharap
oleh-oleh dari orang yang hidupnya susah.
Kamu bisa pulang dengan rindu
yang masih utuh saja sudah merupakan berkah.

Pulang ya pulang saja. Tak usah repot-repot
membawa buah tangan yang hanya akan
membuat tanganku gemetar dan mataku basah.

Aku tahu, kepalamu kian berat
dan hidupmu bertambah penat. Mau selonjor
dan ongkang-ongkang saja kamu tak sempat.

Pernah aku jauh-jauh pergi untuk menemuimu
dan tak bisa menemukanmu.
Di manakah kamu? Ke manakah kamu?
Ealah, ternyata kau sedang beribadah di akunmu.

Pulanglah dengan girang jika pulang
adalah menulis ulang sajak yang rumpang.
Jika kau punya banyak kucing tapi tak punya
ngeong kucing, aku punya malam-malam
bertaburkan ngeong kucing.

Pulanglah dengan lugu. Masih ada pintu untukmu,
bahkan jika kau pulang telanjang malam-malam
saat aku sedang bertukar meong dengan kucingku.

(2013)

Surat Senyap

Waktumu sebentar lagi habis, hujan.
Malam akan menganga dan kau menjadi gema.

Mula-mula kau berjalan rintik-rintik,
bolak-balik antara ujung kepala dan ujung kaki.
Ketika demam berhembus, kau meluncur deras
diiringi tiga tembakan petir. Hatiku banjir.

Kau membuat kolam di lambungku dan aku
terdiam mendengar kecipak air di kolamku.

Kini kau merintik kembali dan rintikmu
sebentar lagi sirna. Tinggal gigil penjual sate
yang tiba-tiba berhenti di leherku, mendengar “T”
yang Tuhan serukan di ujung lidahku.

Malam mulai menganga dan kau menjadi gema.

(2013)