Surat Malam

Kau menanamku pada sungaimu
dan aku tumbuh menjadi arus
yang menyimpan mimpimu.

Kau menanamku pada kakimu
dan aku tumbuh menjadi jarak
yang membuka jalanmu.

Kau menanamku pada kucingmu
dan aku tumbuh menjadi meong
yang mengancam sepimu.

Kau menanamku pada matamu
dan aku tumbuh menjadi pejam
yang menumpas kantukmu.

Kau menanamku pada tidurmu
dan aku tumbuh menjadi doa
yang menghalau galaumu.

(2013)

Surat Kabar

Ayah saya seorang loper koran
yang sama gigihnya dengan wartawan.
Deadline nasibnya lebih keras dari deadline tulisan.

Ibu suka memungut huruf-huruf di koran
dan membubuhkannya ke dalam kopiku.
“Minumlah, anakku. Kau akan jadi jurnalis jempolan.”

Saya sering mati kata di hadapan peristiwa
ketika di antara baris-baris tulisan
muncul bayangan ayah sedang mengedarkan koran.

Dari koran saya belajar paham
bahwa headline hidup sering muncul
di saat-saat akhir yang rawan.
Entah mengapa selalu ada tangan tak kelihatan
yang menyelamatkan saya
dari ancaman deadline yang kejam.

Ada camar berkelebat di cakrawala halaman koran,
mengantar rindu dari dia yang sabar menunggu.

Beri saya kemewahan membaca koran
sambil minum kopi di pagi hari,
sambil tercenung-cenung membaca tulisan sendiri.

Bulan menemani saya menyiapkan rubrik koran.
Cahayanya menembus mata saya yang kesepian.

Saya letih diburu-buru peristiwa.
Di sebuah gang saya ditangkap oleh sebuah kejadian:
seorang loper koran tercebur ke selokan.

Ibu membuka surat wasiat ayah di hadapan saya.
Ayah berpesan: jika beliau meninggal,
harap jenazahnya dibungkus koran.

(2012/2013)

Surat Cukur

Aku mengarang surat ini di hadapan cermin
yang sedang memamerkan rambut baruku.

Subuh tadi aku dicukur. Aku didatangani
tukang cukur gondrong dan gila. Ia menghunus
pisau cukurnya sambil mencengkeram tengkukku:
“Aku ingin membuat garis merah di lehermu.”

Di masa kecilku tukang cukur itu pernah
menggunduli kepalaku di bawah pohon beringin,
lalu mengantarku pulang dengan sepedanya.
Setelah itu aku tak pernah lagi melihatnya.

Sebagian rambutku sudah jadi rambut salju.
Jangan sedih. Aku belum lupa cara berbahagia.
Dompet boleh padam, rezeki tetap menyala.

Di dalam cermin ada matahari yang pemalu.
Matahariku kecil saja dan tidak sombong.
Aku tak bisa melihat matahari kecilku
sebab ia sembunyi di belakang kepalaku.

Aku tak akan lupa garis merah di telapak tanganmu.
Semoga hidupmu lebih manis dari jidat manismu.
Ini aku kirimkan potongan rambutmu
yang dulu kamu tanam di sela-sela rambutku.

(2013)

Surat Sarung

Tuhan mau numpang tidur
dalam sarungmu, menikmati
betapa lenturnya jingkrungmu.

Menjingkrunglah.
Aku bantu menjingkrung dari jauh.

Tuhan mau numpang demam
dalam jingkrungmu, merasakan
betapa gigihnya gigilmu.

Menggigillah.
Aku bantu menggigil dari jauh.

(2013)

Surat Batu

Maaf, baru sekarang aku membalas surat
yang kamu kirim tujuh tahun yang lalu.

Waktu itu kamu memintaku merawat
sebuah batu besar di halaman rumahmu
sebelum nanti kamu pahat menjadi patung.
Batu itu kamu ambil dari sungai di tengah hutan.

Aku suka duduk membaca dan melamun
di atas batumu dan bisa merasakan denyutnya.
Kadang mimpiku tertinggal di atas batumu
dan mungkin terserap ke dalam rahimnya.

Hujan sangat mencintai batumu dan cinta hujan
lebih besar dari cintamu. Aku senang
melihat batumu megap-megap dicumbu hujanku.

Akhirnya batumu hamil. Dari rahim batumu
lahir air mancur kecil yang menggemaskan.
Air mancur itu sekarang sudah besar,
sudah bisa berbincang-bincang dengan hujan.

Maaf, jangan ganggu air mancurku.
Bahkan batumu mungkin sudah tidak mengenalmu.

(2013)

Surat Kopi

Lima menit menjelang minum kopi,
aku ingat pesanmu: “Kurang atau lebih,
setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”

Mungkin karena itu empat cangkir kopi sehari
bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri.

Kau punya bermacam-macam kopi
dan kau pernah bertanya: “Kau mau pilih
kopi yang mana?” Aku jawab: “Aku pilih kopimu.”

Di mataku telah lahir mata kopi.
Di waktu kecil aku pernah diberi Ibu cium rasa kopi.
Apakah puting susu juga mengandung kopi?

Kopi: nama yang tertera pada sebuah nama. Namaku.

Burung menumpahkan kicaunya ke dalam kopi.
Matahari mencurahkan matanya ke hitam kopi.
Dan kopi meruapkan harum darah dari lambungmu.

Tiga teguk yang akan datang aku bakal
mencecap hangat darahmu di bibir cangkir kopiku.

(2013)

Surat Kau

Kau tak ada di kakiku
ketika aku membutuhkan langkahmu
untuk merambah rantauku.

Kau tak ada di tanganku
ketika aku membutuhkan jarimu
untuk menggubah gundahku.

Kau tak ada di sarungku
ketika aku membutuhkan jingkrungmu
untuk meringkus dinginku.

Kau tak ada di bibirku
ketika aku membutuhkan aminmu
untuk meringkas inginku.

Kau tak ada di mataku
ketika aku membutuhkan pejammu
untuk merengkuh tidurku.

Mungkin kau sudah menjadi aku
sehingga tak perlu lagi aku menanyakanmu.

(2013)